Efektifkah teknik uitemate ?

uitemate
Teknik Uitemate (credit : grapee.jp)

Belakangan ini beredar luas di sosmed tentang teknik survival di air dengan cara memposisikan badan terlentang di permukaan air dan dapat dibantu dengan bahan mengapung “seadanya” lain seperti botol air mineral dan lainnya. Mereka menyebutnya dengan nama “uitemate” dan meng-klaim telah menyelamatkan ribuan orang saat tsunami di jepang.

Pertanyaan yang muncul adalah apakah teknik ini bisa digunakan ?

Tentu saja bisa.. Jika dapat membuat kita mengapung, semua jenis teknik survival di air dapat digunakan. Namun, pemberitaan yang berlebihan tanpa menyampaikan kelemahan dari sebuah teknik justru membahayakan. Orang jadi cenderung “menggampangkan” kondisi berbahaya yang terdapat di air, sehingga tidak mempersiapkan apapun yang berhubungan dengan keselamatan di air.  Padahal keberhasilan sebuah proses survival sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan perencanaan yang disiapkan untuk menghadapi kedaruratan termasuk ketrampilan survival.

Teknik uitemate sebenarnya merupakan teknik dasar dalam renang yang disebut back floating. Teknik ini memiliki kelebihan dapat bernapas dengan mudah sehingga cenderung nyaman. sehingga sangat bagus jika digunakan di kolam renang. Namun teknik ini juga memiliki beberapa kelemahan antara lain :

Hanya bisa digunakan saat air relatif tenang. Teknik ini dapat dilakukan dengan sempurna saat di kolam renang. Namun ketika digunakan di laut atau danau dengan sedikit gelombang saja akan mengalami kesulitan. Wajah akan terendam air dalam posisi terlentang sehingga hidung mudah kemasukan air dan tidak dapat bernapas. Sehingga klaim telah menyelamatkan ribuan nyawa saat tsunami sangat diragukan.

2  Tidak bisa dilakukan semua orang. Tanpa menggunakan pelampung tambahan, teknik ini hanya dapat dilakukan oleh orang dengan daya apung (buoyancy) positif. Sedangkan untuk yang daya apungnya negatif atau netral akan akan mengalami kesulitan dalam mengapung horizontal. Oleh sebab itu teknik ini lebih mudah dilakukan oleh anak-anak dan wanita karena memiliki daya apung yang cenderung positif.

Hanya bisa dilakukan oleh orang yang bisa renang atau terbiasa di air. Orang yang tidak bisa renang (non swimmer) akan mengalami ketakutan saat menegadahkan wajahnya di permukaan air. Hal ini karena insting sebagai makhluk darat masih sangat kuat yaitu akan selalu menegakkan badannya saat berada di air. Dan cenderung ingin seluruh kepalanya bahkan dadanya berada di atas permukaan air. Sehingga walaupun menggunakan pelampung tambahan seperti botol air mineral, teknik ini tetap sulit dilakukan oleh non swimmer.

Tidak bisa lama. Teknik ini tidak benar-benar rileks. Otot leher belakang dalam keadaan kontraksi secara konstan untuk mempertahankan posisi kepala tetap di permukaan air. Hal ini menyebabkan ketegangan pada otot belakang leher. Biasanya mulai dirasakan tidak nyaman setelah 5 menit melakukannya.

Dari beberapa kelemahan di atas, maka perlu dipahami bahwa back floating atau uitemate hanyalah salah satu cara untuk survival, bukan satu-satunya cara. Harus dikombinasikan dengan teknik survival lain seperti teknik drown proofing dan survival sculling.

NAMUN.. Yang paling penting dalam survival adalah persiapan. beberpa hal yang harus disiapkan jika anda berpergian dengan transportasi air atau bermain di area perairan antara lain :

1  Pelajari tentang keselamatan di air, termasuk beberapa teknik survival

2  Belajar renang. Kemampuan renang kadang menjadi penentu survival.

3  Bawa pelampung. Kami menyarankan selalu bawa pelampung jika berpergian menggunakan transportasi air. Atau dapat membawa tas jenis drybag dengan besar minimal 20 L. Tas ini sangat baik untuk dijadikan pelampung.

4  Gunakan pakaian non jeans. Bahan jeans sangat berat saat berada di air. Celana panjang non jeans juga dapat digunakan sebagai pelampung darurat.

5  Gunakan sepatu olahraga. Sepatu olah raga memiliki sol yang cukup tebal, hal ini dapat menambah daya apung anda.